
Ceritanya
Darah mengering di seragamnya, tapi perut kosong lebih menyiksa. Prajurit Tamura, tersesat dan terisolasi di hutan Filipina, ditinggal unitnya yang kocar-kacir di hari-hari terakhir Perang Dunia II. Ia bukan cuma berperang melawan musuh, tapi juga kelaparan yang menggerogoti tulang, penyakit yang merayap di kulit, dan kelelahan yang bikin logika kacau. Setiap langkah bisa berarti ranjau atau sisa makanan di kamp yang terbengkalai. Di tengah hutan yang berubah jadi kuburan raksasa, Tamura ketemu prajurit lain yang juga sekarat, dan mereka saling pandang dengan tatapan kosong. Mana yang lebih kejam, tentara Sekutu atau sesama tentara Jepang yang sudah kehilangan akal karena lapar?
Kalau suka ini












