Ceritanya
Warsawa 1939, dan piano Władysław Szpilman tiba-tiba berhenti. Dentuman bom menggantikan nada-nada Chopin, memaksanya bersama ribuan Yahudi lainnya masuk ke dalam tembok Ghetto. Dari balik jendela apartemen yang disita, dia menyaksikan keluarganya digiring pergi, satu per satu. Hidup tinggal insting, bersembunyi di loteng, di ruang bawah tanah, di antara reruntuhan yang dulu adalah kotanya. Sendirian, lapar, dan diam-diam memainkan udara di atas tuts khayalan. Yang tersisa cuma ingatan pada musik dan secercah harapan absurd bahwa esok masih ada. Saat serdadu Jerman masuk ke kamar persembunyiannya, apa yang membuat seorang perwira membiarkan pianis itu tetap hidup?
Kalau suka ini













