
Ceritanya
Darah di tangannya sendiri. Agu baru berusia sembilan tahun saat perang saudara merenggut segalanya dan seorang komandan bernama Commandant merekrutnya jadi tentara anak. Di hutan Afrika Barat yang kering dan panas, Agu belajar membunuh, mabuk, dan melupakan rasa takut. Tapi di malam hari, dia masih ingat wajah ibunya. Antara rasa jijik dan semacam ketertarikan aneh pada senjata, Agu perlahan kehilangan dirinya sendiri. Commandant mengajarnya bahwa kekerasan adalah satu-satunya bahasa yang didengar musuh, tapi di balik sorot mata Agu ada anak kecil yang hanya ingin pulang. Ketika perang mulai berubah arah, Commandant semakin paranoid dan Agu harus memilih antara tetap setia atau melarikan diri dari satu-satunya keluarga yang tersisa. Apa jadinya seorang anak ketika kemanusiaan adalah beban yang harus dia buang?
Kalau suka ini












