Ceritanya
Pedangnya tidak pernah meleset, meski matanya tak lagi melihat dunia. Pendekar buta itu membawa seorang anak yatim piatu melintasi padang gersang, menuju satu tujuan, membalas dendam atas keluarga yang hancur. Bocah itu masih terlalu kecil untuk memahami beratnya beban yang dipikul, tapi setiap langkahnya penuh keyakinan buta. Sang pendekar mengajarkan lebih dari sekadar ilmu pedang, ia menanamkan keyakinan bahwa darah harus dibalas dengan darah. Sementara jejak musuh mulai terlihat, keraguan perlahan menyusup di antara mereka berdua. Anak itu mulai bertanya-tanya apakah keadilan yang ia cari memang berbentuk mayat bergelimpangan, atau ada harga yang lebih mahal dari sekadar nyawa. Di ujung perjalanan, jawaban itu menunggu dengan senyum sinis. Apakah dendam yang dituntaskan benar-benar mengakhiri segalanya, atau justru memulai lingkaran kekerasan baru yang tak berujung?
Kalau suka ini













