
Ceritanya
Tiga belas mayat. Satu rumah tua. Sekelompok remaja dengan kamera ponsel. Kombinasi yang jelas-jelas bakal berakhir buruk, tapi mereka nekat juga. Dipimpin rasa penasaran dan obsesi jadi viral, mereka masuk ke lokasi pembantaian keluarga paling terkenal di kota. Yang awalnya cuma teror murahan dan lampu kedip berubah ketika salah satu dari mereka beneran lenyap. Pintu terkunci dari dalam. Sinyal hilang. Suara langkah kaki di lantai dua bukan berasal dari teman mereka. Mike C. Manning dan Elena Sanchez jadi bagian dari grup yang perlahan sadar kalau arwah penghuni rumah ini bukan sekadar legenda. Mereka bukan lagi pemburu konten, tapi mangsa. Yang bikin ngeri, setiap lorong di rumah itu sepertinya tahu nama mereka.
Kalau suka ini












