
Ceritanya
Satu misi terakhir, dan nyaris tidak ada yang pulang. Perang Seratus Resimen masih berkecamuk, sementara satu detasemen kecil Tentara Kedelapan dapat perintah paling gila: rebut pos pemeriksaan Jepang di Desa Majiapu. Mereka harus bertahan cukup lama biar pasukan sendiri bisa mundur dengan aman. Li Youbin memimpin anak buah yang jumlahnya jauh lebih sedikit, persenjataan seadanya, tapi semangatnya bukan main. Setiap sudut desa itu jadi medan tempur, setiap meter tanah harus dibayar mahal dengan darah. Peluru habis, bayonet patah, dan pos itu masih jauh dari genggaman. Siapa sangka harga dari kata "mundur" setinggi ini?
Kalau suka ini












