
Ceritanya
Dua puluh empat jam. Itu batas waktu yang dimiliki Natasha sebelum keluarganya dideportasi dari Amerika. Gadis pragmatis yang cuma percaya bukti ilmiah ini nggak punya waktu buat basa-basi, apalagi jatuh cinta. Tapi alam punya rencana lain. Daniel, pemuda romantis yang yakin banget sama takdir, menabraknya di jalan, dan sejak detik itu hidup Natasha jungkir balik. Mereka berdua terjebak dalam percakapan yang membenturkan sains melawan kepercayaan buta pada kebetulan. Natasha yang logis mulai goyah, Daniel yang penuh keyakinan mulai ragu. Semua terjadi dalam sehari, sementara jam deportasi terus berdetak. Kalau ternyata cuma kebetulan, kenapa rasanya begitu tepat?
Kalau suka ini












