
Ceritanya
Dia datang dengan senyum sopan, tatapan polos, dan cerita yang terlalu rapi untuk klien pertama. Psikoterapis itu langsung tahu ada yang salah dengan klien barunya ini, tapi etika profesi memaksanya tetap mendengarkan. Sesi demi sesi, ruang terapi berubah jadi medan psikologis yang mencekik, si klien manipulatif mulai memutar narasi, menggeser posisi mereka, sampai batas antara penyembuh dan pasien tak lagi jelas. Pertaruhannya bukan lagi soal diagnosis, tapi nyawa. Setiap kalimat yang keluar dari mulut si klien terasa seperti jebakan, dan psikoterapis itu sadar dia bukan sedang menghadapi korban trauma, melainkan predator yang tahu persis tombol mana yang harus ditekan. Apakah dia akan selamat dari terapinya sendiri?
Kalau suka ini












