
Ceritanya
Napoli, tahun 1980-an. Udara panas, gemuruh stadion, dan bayangan Maradona dimana-mana. Fabietto remaja biasa yang hanyut di antara pesta keluarga, obrolan konyol, dan keheningan yang tiba-tiba. Toni Servillo dan Filippo Scotti main dengan intensitas yang terasa nyata, seolah mereka benar-benar tetangga kita. Ada tawa, ada air mata yang datang diam-diam, lalu tragedi menghantam tanpa aba-aba. Fabietto harus memilih: tenggelam dalam duka atau menemukan arti baru lewat sepak bola dan sinema. Paolo Sorrentino merangkai semuanya seperti puisi yang tak selesai, indah tapi menusuk. Siapa sangka, dari kekacauan keluarga, lahir seorang pembuat film.
Kalau suka ini












