
Ceritanya
Apartheid baru saja runtuh, dan Desmond Tutu duduk berhadapan dengan seorang pembunuh yang mengaku mencari penebusan. Bukan ruang pengadilan, bukan meja negosiasi, tapi sebuah ruangan sunyi yang jadi medan perang batin. Pria di depannya itu bicara tentang dosa, tapi matanya masih menyimpan sesuatu yang gelap. Tutu tahu, pengampunan tidak semudah kata maaf yang diucapkan. Luka masa lalu masih berdarah, dendam masih membara di dada banyak orang yang kehilangan segalanya. Forest Whitaker memerankan uskup agung dengan ketenangan yang menekan, sementara Eric Bana hadir sebagai algojo yang mencari jalan keluar dari neraka pribadinya. Thriller psikologis ini menolak memberi jawaban gampang soal keadilan. Pertanyaannya justru, apakah memaafkan berarti melupakan, atau justru mengakui bahwa luka itu nyata dan tetap hidup?
Kalau suka ini











