
Ceritanya
Baghdad, 2006. Jalan Haifa bukan lagi tempat orang jatuh cinta, tapi medan pertempuran sektarian yang tiap sudutnya bisa jadi perangkap maut. Ahmed turun dari taksi dengan cincin di saku, niatnya satu, melamar Suad, perempuan yang diam-diam ia simpan di hati sejak lama. Langkahnya belum sampai ke pintu. Dari atap sebuah bangunan, Salam, penembak jitu yang matanya kosong dan tangannya gemetar di antara peluru dan penyesalan, menarik pelatuk. Satu tembakan cukup untuk mengubah segalanya. Drama romansa ini tidak memberi waktu bagi cinta untuk bernafas, karena perang tidak pernah kenal kompromi. Lalu bagaimana nasib Suad yang menunggu di balik pintu?
Kalau suka ini











