
Ceritanya
Tiga detik cukup mengubah segalanya. Seorang bintang bola basket masa depan kehilangan segalanya dalam kecelakaan mobil beruntun yang tragis, membuatnya lumpuh total dari leher ke bawah. Kuadriplegia, kata dokter, dan dengan itu hancur pula mimpi yang sudah ia kejar sejak kecil. Hidupnya yang dulu penuh sorak penonton dan sorotan lampu kini berubah menjadi ruang perawatan yang sunyi, penuh jarum suntik dan suara monitor. Ia harus belajar dari nol, bukan untuk berlari atau melompat, tapi untuk sekadar menggerakkan jari. Di tengah puing-puing keputusasaan itu, pertanyaan paling menyakitkan bukan lagi soal karier yang hilang, melainkan apakah hidup masih layak dijalani. Apa artinya penebusan ketika tubuh sendiri sudah tidak lagi mau diajak bekerja sama?
Kalau suka ini











