
Ceritanya
Layar hitam. Suara ledakan dari kejauhan. Lalu wajah Safo dan Sveta Burieva muncul di antara reruntuhan apartemen yang masih berdiri di Mariupol. Mereka bukan tentara, bukan politisi, cuma warga biasa yang memilih bertahan di kota yang perlahan hancur. Dokumenter ini tidak punya narator, tidak ada wawancara formal, hanya rekaman mentah kehidupan sehari-hari di bawah pengepungan. Ada Nikolai Arabadzhi yang masih menyalakan kompor di dapur yang temboknya bolong, ada anak-anak yang bermain di lorong gelap sementara mortir jatuh tak jauh dari sana. Kvedaravicius merekam semuanya tanpa sensor, tanpa dramatisasi, seolah kamera adalah perpanjangan dari napas yang tersisa. Yang bikin nggak nyaman, film ini selesai direkam beberapa jam sebelum sutradaranya sendiri tewas tertembak. Pertanyaannya bukan apa yang terjadi setelahnya, melainkan apa yang masih bisa dilakukan ketika dunia memilih berpaling.
Kalau suka ini












