
Ceritanya
Rei adalah pemain shogi profesional berusia 17 tahun yang hidup sendiri di Tokyo tanpa keluarga. Diam-diam dia sering duduk di bangku taman dekat rumah Kawamoto, mendengar tawa tiga bersaudara itu dari luar pagar. Sampai suatu hari Akari, si sulung, mengajaknya makan malam. Perlahan Rei mulai tahu arti hangatnya rumah, sesuatu yang sudah lama hilang dari hidupnya. Tapi dunia shogi nggak peduli dengan perasaan. Di papan, lawan-lawannya bertaruh harga diri, sementara di luar papan, Rei masih bergulat dengan masa lalu yang menghantuinya. Pertandingan demi pertandingan ia jalani, tapi pertanyaan terbesar bukan tentang menang atau kalah. Ketika semua bidak sudah jatuh, apa yang tersisa untuk Rei?
Kalau suka ini












