
Ceritanya
Billy Chapel, pitcher legendaris Detroit, berdiri di gunduk pada hari terakhir musim. Kekasihnya memilih London, kariernya di ujung tanduk, dan manajernya sudah menunggu di ruang ganti dengan kertas kontrak. Satu pertandingan tersisa, tapi otaknya penuh kilasan memori, bukan taktik lapangan. Di antara lemparan demi lemparan, ia bergulat dengan cinta yang hilang dan gairah pada bisbol yang mulai pudar. Rekannya sesama pemain cuma bisa lihat dari bangku cadangan, sementara ribuan penonton tak tahu pergulatan di kepala Chapel. Pertanyaan abadi menggelayut di udara: apakah seorang pria bisa mencintai dua hal sekaligus tanpa kehilangan keduanya?
Kalau suka ini












