
Ceritanya
Musim panas 1974. Seorang remaja yang haus akan seni nekat mendatangi rumah seorang pelukis tua yang sudah lama meninggalkan kuasnya. Sang master, muak dengan dunia yang dulu ia cintai, awalnya menolak mentah-mentah. Tapi remaja itu keras kepala, datang lagi dan lagi, sampai akhirnya si tua menyerah dan setuju mengajarinya. Hubungan mereka tegang di awal, bentrok antara idealisme muda dan kekecewaan tua. Namun diam-diam, sang guru mulai memegang kanvas lagi, sementara muridnya perlahan belajar melihat warna di tempat yang paling gelap. Kisah nyata ini bukan cuma soal teknik melukis, tapi dua jiwa yang saling mengisi ruang kosong masing-masing. Bisakah seni benar-benar menyembuhkan luka yang sudah mengering puluhan tahun?
Kalau suka ini











