
Ceritanya
Siapa sangka buku harian bisa jadi satu-satunya teman di loteng pengap itu. Anne Frank, remaja Yahudi, menulis semua ketakutannya di sana, juga harapan yang kadang terasa konyol, dan diam-diam cinta pertamanya pada Peter. Mereka sembunyi dari teror Nazi, hidup dalam sunyi, tapi bahaya selalu mengintip dari celah-celah dinding. Suara sekecil apa pun bisa berarti akhir. Setiap langkah kaki di luar bikin jantung hampir copot. Bertahun-tahun kemudian, ayah Anne, Otto Frank, kembali ke loteng itu dan menemukan buku harian putrinya. Halaman-halamannya jadi saksi bisu atas semua yang tak sempat dia katakan.
Kalau suka ini











