Ceritanya
Louvre di bawah pendudukan Nazi, dan seni harus memilih pihak. Francofonia (2015) membingkai ulang sejarah lewat mata Sokurov yang khas, bukan sekadar film perang. Louis-Do de Lencquesaing muncul sebagai tokoh yang bergulat dengan tugas berat menjaga museum tetap utuh, sementara Benjamin Utzerath hadir sebagai perwira Jerman yang punya cara pandang lain soal budaya. Di antara meja negosiasi dan lorong-lorong kosong, ada tanya besar soal siapa sebenarnya pemilik karya seni, penjajah atau yang dijajah. Dialog antara dua lelaki itu berlapis, kadang dingin, kadang penuh teka-teki. Sinematografinya merangkul keheningan dan bayangan, membuat setiap patung dan lukisan terasa bernapas. Film drama sejarah ini tidak memberi jawaban mudah, justru membiarkan penonton tersesat di antara fakta dan refleksi. Ketika perang berakhir nanti, apa yang tersisa dari sebuah peradaban yang bertahan lewat benda-benda mati?
Kalau suka ini













