
Ceritanya
Petarung MMA muda ini ingin mengikuti jejak ayahnya sang juara. Tapi bayarannya mahal. Semakin lama dia bergulat di ring, semakin jelas warisan ayahnya bukan kebanggaan melainkan kutukan yang menggerogoti dari dalam. Setiap pukulan yang dia lepaskan, setiap kemenangan yang dia raih, semuanya terasa seperti mengulang luka lama yang tak sembuh-sembuh. Ayahnya, keras dan dingin, melihat olahraga ini semata-mata soal darah dan dominasi. Tapi si anak mulai bertanya, apa yang tersisa setelah semua pukulan berhenti? Terjebak di antara tekanan keluarga dan suara hatinya sendiri, pilihannya tunggal: melanjutkan tradisi berdarah atau memutus rantai itu dan mencari jalannya sendiri. Di titik mana seseorang berhenti menjadi petarung dan mulai menjadi manusia?
Kalau suka ini












